Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, Bintang Kejora Langit Indonesia
0
Komentar
Namun, tak jarang, banyak perempuan yang kehilangan pendidikan juga hak-haknya karena adat istiadat atau keinginan orang tua yang mengikuti tren masa kini—kecondongan mereka terhadap hal-hal materialistik. Akibatnya, banyak anak perempuan dibiarkan menikah tanpa bekal dan persiapan yang matang. Fenomena ini masih sering kita di Indonesia. Alhasil, peran perempuan dalam pembangunan generasi bangsa sedikit timpang, alih-alih mewujudkan generasi yang berkualitas melalui ‘tangan ajaib’ mereka.
Barangkali, perjuangan dan sosok Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA. dapat membuka pandangan kita, terutama para perempuan. Sosok perempuan yang lahir di Danggala, Sulawesi Tengah pada 30 Desember 1946 ini pernah menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di Lembaga pendidikan al-Khairat, Palu. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan strata 2 dan strata 3 di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir hingga dijuluki perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor dari al-Azhar dalam bidang fikih perbandingan pada tahun 1984.
Luar biasanya, beliau berhasil mendapat gelar tersebut dengan predikat cumlaude. Padahal, pada saat itu, mendapat gelar untuk strata satu di Universitas al-Azhar dikenal sangat sulit, apalagi sampai menembus gelar doktor atau strata 3 dengan predikat yang menakjubkan. Dengan hal ini, tidak berlebihan jika beliau menjadi seseorang yang kemudian kita anggap mampu melawan dan merobohkan stigma—kala itu—bahwa perempuan mustahil dapat mencapai level pendidikan hingga tingkat tertinggi..
Bukan sesuatu yang mengejutkan jika beliau berhasil dalam pendidikannya, karena selain tekun dalam belajar, beliau juga mendapat banyak sekali penghargaan sejak duduk di bangku madrasah, diantaranya bintang pelajar al-Khairat dan lulusan terbaik madrasah al-Khairat. Selama hidupnya, beliau juga mendapat penghargaan “Kepemimpinan dan Manajemen Peningkatan Peranan Wanita” dari Menteri Peranan Wanita RI, penghargaan Era Muslim Global Media atas kepeduliannya terhadap ilmu Syariah, Satyalancana Wira Karya dari presiden RI atas jasanya sebagai anggota tim penyempurnaan tafsir al-Qur’an Departemen Agama RI, dan mendapat penghargaan Women Award atas dedikasinya dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Begitu mekarnya bunga indah Indonesia ini.
Beliau juga merupakan sosok perempuan yang gigih dan cerdas. Hal tersebut terlihat dari dedikasi beliau selama hidupnya dalam dunia pendidikan. Beliau pernah mengajar di tiga universitas, yaitu UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah Jakarta, dan Universitas Indonesia. Beliau juga menjabat menjadi rektor di Institut Ilmu al-Qur’an. Selain itu, beliau juga pernah menjadi anggota komisi fatwa MUI dan anggota Dewan Syariah Nasional, bahkan juga pernah menjabat sebagai ketua bidang fatwa Majelis Ulama Indonesia.
Selain aktif dalam dunia akademik, beliau juga aktif dalam berorganisasi sehingga tak heran jika beliau penah menjadi ketua Pengurus Besar Persatuan Wanita Islam al-Khairat di Palu, dan ketua Pusat Pembelajaran Wanita di IAIN Jakarta. Dengan ini, kita dapat melihat sosok perempuan yang luar biasa dan mampu berkontribusi dalam bidang apapun, baik pendidikan maupun organisasi.
Sebagai seorang perempuan, beliau berfikir bahwa perempuan harus berilmu untuk mendidik anak-anaknya dan tak boleh tertinggal dengan laki-laki dalam segi apapun karena perempuan itu pilar negara. Jika ingin negara berjalan dengan benar, maka perempuan yang berkualitas harus berperan. Beliau juga sangat mendukung dan memperjuangkan peningkatan peran perempuan dalam berbagai sektor. Pada tahun 2020, beliau sempat berkunjung ke Afghanistan dan berdialog dengan tokoh-tokoh perempuan di sana. Tak hanya berkunjung, beliau juga mengikuti forum-forum internasional di Mesir, Abu Dhabi, dan lain sebagainya. Ini menjadi upaya-upaya beliau untuk melahirkan perempuan-perempuan yang berkualitas dan dapat berperan dalam peningkatan generasi bangsa.
Pemikiran dan gagasannya banyak menghiasi majalah dan media seperti kanal Youtube dan tulisan di berbagai majalah. Tidak hanya disitu, beliau juga menuangkan ide dan karyanya dalam sebuah buku: “Problematika Fikih Kontemporer”, “Pengantar Perbandingan Madzhab”, “Masail Fiqhiyah: Kajian Hukum Islam Kontemporer”, “Pandangan Islam tentang Gender”, “Konsep Wanita dalam Pandangan Islam”, dan “Fikih Perempuan Kontemporer”.
Dengan itu, seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati sinar dan kecermelangan pemikirannya melalui buku-buku yang telah tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Dalam buku-bukunya, beliau juga banyak menyentuh dan membahas berbagai hal yang banyak diperdebatkan oleh masyarakat seperti hukum jilbab, LGBT, aborsi, korupsi, nepotisme, kesehatan, makanan dan minuman, juga berbagai problematika dalam perkawinan seperti nikah siri dan konsekuensinya, pernikahan beda agama, dan lan-lain.
Setelah berbagai peran dan torehan yang beliau lukiskan, perjalanan beliau harus terhenti karena gagal berjuang melawan Covid-19. Sebelumnya, beliau begitu berkontribusi dalam membantu menuangkan beberapa fatwa terkait wabah Covid-19 yang tertuang dalam pembahasan intendif fatwa-fatwa MUI. Beliau wafat pada Jumat, 23 Juli 2021 M/13 Dzulhijjah 1442 H di usia 74 tahun di RSUD Banten dan dimakamkan di komplek pemakaman UIN Jakarta.
Indonesia kehilangan pakar fikih perempuan sekaligus ‘bintang kejora’ yang sangat terang-benderang. Penulis sangat berharap akan ada Huzaemah lain yang mampu mengikuti jejak dan dedikasinya dalam pendidikan, pemikiran, juga sebagai pejuang hak-hak perempuan di masa depan.
Redaktur: Arifatun Nisa Birizqil Adhim
Editor: Muhammad Reza Pahlevi Mufarid
Posting Komentar